Selasa, 24 Maret 2020

Metode Ilmiah (Jenis Metode Penelitian dan Langkah-Langkahnya)


Metode Penelitian

Penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu serta teknologi (Margono, 2004: 1). Metodologi penelitian terdiri dari kata “methodology” yang berarti ilmu tentang jalan yang ditempuh untuk memperoleh pemahaman tentang sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya (Hadi dan Haryono, 2005: 41).

Adapun yang dimaksud metode penelitian menurut Furchan (2004: 39) adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan, guna menjawab persoalan yang dihadapi. Sukardi (1983, 15-16) memaparkan bahwa metode diartikan sebagai suatu kumpulan dari berbagai cara (yang didasari oleh penalaran dan logika berfikir yang kuat) yang dipergunakan untuk mendekati suatu masalah dengan tujuan untuk memperoleh pengertian-pengertian yang lebih luas mengenai berbagai masalah.

Prosedur diartikan sebagai serangkaian petunjuk atau pedoman untuk memulai melaksanakan sesuatu dan teknik diartikan sebagai suatu kumpulan dari prosedur atau pengelompokkan dari berbagai cara untuk melakukan sesuatu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu cara yang harus dilakukan oleh peneliti melalui serangkaian prosedur dan tahapan dalam melaksanakan serangkaian kegiatan penelitian dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau mencari jawaban terhadap suatu masalah.

Berbagai Jenis Metode Penelitian

Berbagai klasifikasi metode penelitian telah diajukan oleh para ahli. Klasifikasi yang disusun oleh satu ahli yang satu kadangkala berbeda dengan yang dibuat oleh ahli lainnya, akan tetapi ada pula yang memberikan klasifikasi metode penelitian yang relatif sama. Dalam pengelompokkan metode penelitian, kriteria yang dipakai pada umumnya terkait dengan teknik dan prosedur penelitian dari metode penelitian tersebut. Namun ada juga pengelompokkan yang dibuat berdasarkan pada teknik saja atau prosedur saja. Beberapa klasifikasi yang telah dilakukan, antara lain oleh Crawford pada tahun 1928, yang mengelompokkan metode penelitian ke dalam 14 jenis, yaitu:
(1) Eksperimen
(2) Sejarah;
(3) Psikologis;
(4) Case study;
(5) Survei;
(6) Membuat kurikulum;
(7) Analisis pekerjaan;
(8) Intervie;
(9) Questionair;
(10) Observasi;
(11) Pengukuran;
(12) Statistik, dan
(13) Tabel dan Grafik serta
(14) Teknik perpustakaan.

Perkembangan pengklasifikasian metode penelitian terus berubah. Pada tahun 1914 telah muncul ahli-ahli yang membagi penelitian ke dalam kelompok-kelompok penelitian tertentu. Antara tahun 1914-1931 terdapat empat buah metode favorit, yaitu:
(1) Metode eksperimen;
(2) Metode sejarah;
(3) Metode deskriptif; dan
(4) Metode kuesioner.

Pada tahun 1931, penelitian dikelompokkan atas empat kelompok, yaitu:
(1) Metode sejarah;
(2) Metode ekserimen;
(3) Metode filsafat; dan
(4) Metode deskriptif.

Antara tahun 1932-1938, metode yang banyak digunakan dalam penelitian masih dalam pengelompokkan seperti di atas, hanya saja urutanurutan menurut popularitasnya berubah menjadi:
(1) Metode eksperimen;
(2) Metode sejarah;
(3) Metode deskriptif; dan
(4) Metode filsafat.

Adapun secara rinci Hadi dan Haryono (2005:47) mengelompokkan metode penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
(1) Metode Sejarah
(2) Metode Deskriptif;
(3) Metode Eksperimen;
(4) Metode Penelitian Grounded;
(5) Metode Penelitian Tindakan;

Metode Sejarah

Penelitian dapat dilihat dari segi perspektif serta waktu terjadinya fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode sejarah mempunyai perspektif historis. Banyak juga ahli yang mempersamakan metode sejarah dengan metode dokumenter, karena dalam metode sejarah banyak data didasarkan pada dokumen-dokumen. Namun, sebenarnya metode sejarah tidak sama dengan metode dokumenter, karena metode dokumenter dapat saja mengenai masalah dini dan tidak perlu mengenai masalah masa lalu. Metode sejarah menggunakan catatan observasi atau pengamatan orang lain yang tidak dapat diulang-ulang kembali. Ini nyata sekali bedanya dengan metode penelitian eksperimen pada fenomena natura, di mana data observasi.

Dengan demikian, maka kita lihat bahwa biografi dapat menjadi sejarah, jika perorangan tersebut dihubungkan dengan fenomen masyarakat pada masanya. Metode sejarah merupakan suatu usaha untuk memberikan interpretasi dari bagian trend yang naik-turun dari suatu status keadaan di masa yang lampau untuk memperoleh suatu generalisasi yang berguna untuk memahami kenyataan sejarah, membandingkan dengan keadaan sekarang dan dapat meramalkan keadaan yang akan datang. Jadi, tujuan dari penelitian dengan metode sejarah adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara objektif dan sistematis dengan mengumpulkan, mengevaluasikan, serta menjelaskan dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan menarik kesimpulan secara tepat.

Beberapa ciri khas metode sejarah menurut Nazir (2005: 48-49) adalah:
  1. Metode sejarah lebih banyak menggantungkan diri pada data yang diamati orang lain di masa-masa lampau.
  2. Data yang digunakan lebih banyak bergantung pada data primer dibandingkan dengan data sekunder. Bobot data harus kritik, baik secara internal maupun secara eksternal.
  3. Metode sejarah mencari data secara lebih tuntas serta menggali informasi tua yang tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam bahan acuan yang standar.
  4. Sumber data harus dinyatakan secara definitif, baik nama pengarang, tempat dan waktu. Sumber tersebut harus diuji kebenaran dan ketulenannya. Fakta harus dibenarkan oleh sekurang-kurangnya dua saksi yang tidak pernah berhubungan.

Sumber-sumber sejarah dibagi kedalam kelompok-kelompok sebagai berikut:
  1. Pertinggal fisis: tempat-tempat bersejarah, piramida, pot-pot, senjatasenjata, gedung-gedung, dan sebagainya.
  2. Cerita secara oral: yaitu materi yang dipindahkan dari mulut ke mulut seperti balada, cerita rakyat, tradisi-tradisi, legenda, dan sebagainya.
  3. Materi inskripsi: yaitu materi-materi pada tulisan tidak seperti biasa seperti tulisan pada pot-pot, pada piring, pada patung dan sebagainya.
  4. Materi tulisan tangan: paripus, hiroglif, dokumen-dokumen modern, dan sebagainya.
  5. Buku dan cetakan: bahan-bahan yang tercetak.
  6. Bahan audio-visual: film-film, televisi, microfilm, kaset-kaset, radio dan sebagainya.
  7. Observasi langsung: hasil pengamatan penulis atau pengamatan oleh orang-orang yang diwawancarai.

Suatu peraturan dasar dari metode sejarah adalah menggunakan data primer sebanyak mungkin. Di lain pihak adalah sumber-sumber sekunder. Sumber-sumber sekunder adalah catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang “jaraknya” telah jauh dari sumber orisinil. Misalnya, keputusan rapat suatu perkumpulan bukan didasarkan dari keputusan (minutes) dari rapat itu sendiri, tapi dari sumber berita di surat kabar. Berita surat kabar tentang rapat tersebut adalah sumber sekunder. Dalam metode sejarah, maka menggunakan sumber sekunder, padahal sumber primer ada, merupakan error yang besar sekali. Ini dapat diterima, karena sumber-sumber data masa lampau akan terjadi banyak sekali distorsi dalam transmisi. Adanya distorsi akibat dari transmisi keterangan dapat membuat interpretasi keterangan yang salah tentang suatu fenomena sejarah.

Penelitian sejarah terbagi menjadi empat jenis, yaitu:
  1. Penelitian sejarah komparatif Jika penelitian dengan metode sejarah dikerjakan untuk membandingkan faktor-faktor dari fenomena-fenomena sejenis pada suatu periode masa lampau, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian sejarah komparatif. Misalnya, ingin dibandingkan sistem pengajaran di Cina dan Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Dalam hal ini, si peneliti ingin memperllihatkan unsur-unsur perbedaan dan persamaan dari fenomena-fenomena sejenis. Atau misalnya, seorang peneliti ingin membandingkan usaha tani serta faktor sosial yang mempengaruhi usaha tani dari beberapa negara dan membandingkannya dengan usaha tani Indonesia dalam tahap-tahap tren waktu zaman pertengahan.
  2. Penelitian Yuridis atau Legal Jika dalam metode sejarah diinginkan untuk menyelidiki hal-hal yang menyangkut dengan hukum, baik hukum formal ataupun hukum nonformal dalam masa yang lalu, maka penelitian sejarah tersebut digolongkan dalam penelitian yuridis. Misalnya, peneliti ingin mengetahui dan menganalisis tentang keputusan-keputusan pengadilan akibat-akibat hukum adat serta pengaruhnya terhadap suatu masyarakat pada masa lampau, serta ingin membuat generalisasi tentang pengaruh-pengaruh hukum tersebut atas masyarakat, maka penelitian sejarah tersebut termasuk dalam penelitian yuridis.
  3. Penelitan Biografis Metode sejarah yang digunakan untuk meneliti kehidupan seseorang dan hubungannya dengan masyarakat dinamakan penelitian biografis. Dalam penelitian ini, diteliti sifat-sifat, watak, pengaruh, baik pengaruh lingkungan maupun pengaruh pemikiran dan ide dari subjek penelitian dalam masa hidupnya, serta pembentukan watak figur yang diterima selama hayatnya. Sumber-sumber data sejarah untuk penelitian biografis antara lain: surat-surat pribadi, buku harian, hasil karya seseorang, karangan-karangan seseorang tentang figur yang diselidiki ataupun catatan-catatan teman dari orang yang diteliti tersebut.
  4. Penelitian Bibliografis Penelitian dengan metode sejarah untuk mencari, menganalisis, membuat interpretasi serta generalisasi dari fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu organisasi dikelompokkan dalam penelitian biografis. Penelitian ini mencakup hasil pemikiran dan ide yang telah ditulis oleh pemikirpemikir dan ahli-ahli. Kerja penelitian ini termasuk menghimpun karyakarya tertentu dari seorang penulis atau seorang filosof dan menerbitkan kembali dokumen-dokumen unik yang dianggap hilang dan tersembunyi, seraya memberikan intepretasi serta generalisasi yang tepat terhadap karya-karya tersebut.

Langkah-Langkah Pokok dalam penelitian sejarah meliputi:
(1) definisikan masalah;
(2) rumuskan tujuan penelitian;
(3) rumuskan hipotesis;
(4) kumpulkan data;
(5) evaluasi data;
(6) interpretasi dan generalisasi;
(7) laporan.

Metode Penelitian Deskriptif

Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survey normatif. Dengan metode deskriptif ini jug diselidiki kedudukan fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara suatu faktor dengan faktor yang lain. karenanya, metode deskriptif ini juga dinamakan studi kasus (case study).

Bila ditinjau dari jenis masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat waktu penelitian dilakukan, penelitian deskriptif dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:
  1. metode survei, adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah.
  2. metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive), adalah kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus-menerus atas suatu objek penelitian. Pengetahuan yang lebih menyeluruh dari masalah serta fenomena dan kekuatan-kekuatan sosial dapat diperoleh jika hubungan-hubungan fenomena dikaji dalam suatu interval perkembangan dalam suatu periode yang lama. Dengan memperlihatkan secara detail perubahan-perubahan yang dinamis dalam suatu interval tertentu, maka generalisasi suatu situasi atau fenomena secara dinamis dapat dibuat.
  3. penelitian studi kasus, adalah penelitian kasus subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Subjek penelitian dapat saja berupa individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Peneliti ingin mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subjek. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifatsifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum. langkah-langkah pokok metode penelitian studi kasus yaitu: (1) rumuskan tujuan penelitian; (2) tentukan unit-unit studi, sifat-sifat mana yang akan diteliti dan hubungkan apa yang akan dikaji serta proses-proses apa yang akan menuntun penelitian; (3) tentukan rancangan serta pendekatan dalam memilih unit-unit dan teknik pengumpulan data mana yang digunakan. Sumber-sumber data apa yang tersedia; (4) kumpulkan data; (5) organisasikan informasi serta data yang terkumpul dan analisis untuk membuat interpretasi serta generalisasi; dan (6) susun laporan dengan memberikan kesimpulan serta implikasi dari hasil penelitian
  4. penelitian komparatif, adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini, memang sulit untuk mengetahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding, sebab penelitian komparatif tidak mempunyai control. Langkah-langkah pokok dalam studi komparatif adalah sebagai berikut: (1) rumuskan dan definisikan masalah; (2) jajaki dan teliti literatur yang ada; (3) rumuskan kerangka teoretis dan hipotesis-hipotesis serta asumsi-asumsi yang dipakai; (4) buatlah rencana penelitian, (5) uji hipotesis, buat interpretasi terhadap hubungan dengan teknik statistik yang tepat; (6) buat generalisasi, kesimpulan, serta implikasi kebijakan; dan (7) susun laporan dengan cara penulisan ilmiah.
  5. Penelitian analisis kerja dan aktivitas, ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia, dan hasil penelitan tersebut dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang.
  6. Studi waktu Gerakan, penelitian dengan metode deskriptif yang berusaha untuk menyelidiki efisiensi produksi dengan mengadakan studi yang mendetail tentang penggunaan waktu serta perilaku pekerja dalam proses produksi.

Kriteria umum metode penelitian deskriptif adalah:
  1. Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai tambah ilmiah serta tidak terlalu luas.
  2. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum.
  3. Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
  4. Standar yang digunakan untuk memberi perbandingan harus mempunyai validitas.
  5. Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
  6. Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.

Adapun kriteria khususnya adalah:
  1. Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
  2. Fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.
  3. Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

Langkah-langkah umum dalam metode deskriptif meliputi:
  1. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
  2. Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah.
  3. Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. Termasuk di dalamnya daerah geografis di mana penelitian akan dilakukan, batasan-batasan kronologis, ukuran tentang dalam dangkal, serta seberapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau.
  4. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverifikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.
  5. Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dipecahkan.
  6. Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implisit.
  7. Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
  8. Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistik sampai kepada batasbatas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
  9. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
  10. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
  11. Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.


Daftar Pustaka

1.      Emanuel J Mason, William J Bramble. Understanding and Conducting Research. 2nd Edition, McGraw Hill, 2008
2.      Billy J Franklin, Harold W Osborne. Research Method – Issues and Insight. Wadsworth Publishing Company Ltd., 2010
3.      Gary M Maranell. Scaling, a Sourcebook for Behavioral Scientist. Aldine Publishing Company, 2012
4.      Donald B. Calne, Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, terj. Parakitri T. Simbolon. Kepustakaan Populer Gramedia, 2005